Tampilkan postingan dengan label Franchise Business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Franchise Business. Tampilkan semua postingan

STRATEGI SUKSES BISNIS KULINER


Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Begitu pula bagi pria, selain perempuan, kebutuhan utamanya adalah makanan. Itu sebabnya membuka usaha restoran atau rumah makan tidak ada matinya. Bahkan saat terjadi krisis ekonomi pun, bisnis makanan merupakan salah satu bidang usaha yang tak terlalu terkena dampaknya. Bahkan malah banyak yang tetap ramai daN laris saat itu. Tentu saja, agar usaha rumah makan bisa berjalan lancar dan menguntungkan, juga tidak mudah. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk menjadikan usaha tersebut bisa mencapai kesuksesan.

Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan pilihan, makanan macam apa yang akan dijual. Bisa memilih menjual makanan yang sedang trend dengan cita rasa berbeda. Atau menjual makanan yang belum ada di satu daerah. Yang penting harus ada satu jenis makanan spesifik yang akan dijadikan andalan.

Setelah diputuskan jenis makanan yang akan dijual, masakannya harus dicoba dulu. Minta keluarga terdekat untuk mencicipinya. Setelah keluarga suka dengan kelezatannya, suruh teman-teman atau kenalan mencobanya juga. Setelah itu harus dicoba pula oleh orang-orang yang berbeda suku, sehingga masakan yang akan dijual nanti benar-benar bisa diterima secara universal.

Tahap tersebut memang membutuhkan waktu dan biaya cukup besar. Setelah yakin masakan itu banyak disukai orang, baru menjualnya untuk umum. Untuk mengawalinya jangan banyak menu yang ditawarkan, satu menu cukup, asal benar-benar spesifik dan lezat.

Jangan lupa, sebelum mulai membuka rumah makan, nama harus lebih dulu disiapkan. Dalam memilih nama harus hati-hati, jangan sampai membuat nama, ternyata sudah ada yang lebih dulu memakainya, sehingga muncul persoalan di kemudian hari. Nama yang merupakan brand harus dipatenkan, agar tak akan diambil orang bila terkenal dan sukses di kemudian hari. Nama tersebut harus dipajang di lokasi sebagai papan nama atau spanduk. Usahakan desainnya bagus, dan tidak banyak tulisan yang dicantumkan.
Cukup nama restoran serta masakan andalannya. Contohnya, Ayam Bakar Wong Solo, Soto Pak Sadi, Es Teler 77 dan lain sebagainya. Nama tersebut akan menjadi citra spesifik bagi rumah makan tersebut, dan bisa gampang diingat oleh para pelanggan. Jangan sampai membuka rumah makan tanpa nama khusus, misalnya hanya Restoran Ayam Goreng. Kalau suatu saat pindah tempat, akan menyulitkan pelanggan untuk mengingat dan mencarinya.

Tahap berikutnya adalah memilih lokasi. Jangan mengambil lokasi dekat bengkel, jangan pula di dekat tempat orang-orang menongkrong atau pangkalan yang berkesan kumuh, dan kalau bisa di areal teduh penuh pepohonan. Di lokasi tersebut harus ada sarana untuk parkir yang cukup memadai. Bisa pula memilih lokasi yang di sekitarnya sudah ada rumah makan terkenal. Karena biasanya mereka sudah melakukan survei terlebih dahulu ketika akan memutuskan membuka restoran di lokasi tersebut.

Kalau mau mempopulerkan makanan baru memang sebaiknya dari daerah dulu, karena lebih cepat hasilnya. Setelah berhasil dan punya brand yang kuat di daerah, baru membuka di Jakarta. Strategi mengepung dulu sebelum masuk Jakarta seperti itu telah saya nikmati keberhasilannya dalam mengembangkan Rumah Makan Wong Solo.

Hal yang juga penting diperhatikan selain pelayanan adalah menjaga kualitas makanan atau masakan yang dijual. Masakan yang tak habis hari ini, jangan dijual lagi keesokan harinya. Dengan begitu kualitas masakannya akan terus terjaga. Hindari menjual masakan yang tidak segar sisa kemarin. Karena sekali konsumen kecewa dengan kualitas atau rasa yang kurang enak, bisa tak akan kembali lagi. Bahkan bisa pula menceritakan kepada orang lain keburukan tersebut, dan akan berakibat semakin menjatuhkan nama baik rumah makan itu.

Interaksi dengan para pelanggan sebagai kegiatan public relations juga cukup penting. Sempatkan diri mendatangi pelanggan dengan keramahan, kalau perlu ikut melayaninya, dan selalu bertanya apa keluhan mereka. Perhatikan masukan dari setiap pelanggan, untuk meningkatkan kualitas makanan dan pelayanan. Upayakan untuk selalu membuat pelanggan betah dan mau kembali lagi.

Setelah banyak pelanggannya, undang wartawan untuk mencoba masakan sekaligus melakukan wawancara. Kalau bisa buat sensasi positif, karena itu perlu sebagai bagian strategi promosi agar bisa dipublikasikan di media cetak dan media elektronik.

Popularitas itu memang sangat bermanfaat dalam menunjang kesuksesan sebuah usaha. Ada pepatah Jawa yang berarti, cari nama lebih dulu, dan keuntungan akan datang kemudian. Itu sebabnya, sangat penting memopulerkan nama rumah makan atau restoran yang Anda kelola. Nama atau brand sangat terkait dengan value. Dan untuk membangun brand atau nama itu, seorang pengusaha harus berani mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya.

Ketika pelanggan sudah mulai banyak, lakukan penambahan menu masakan dan minuman, agar pelanggan tidak bosan, dan bisa memberikan banyak pilihan makanan. Sebelum memasarkan menu baru, jangan lupa menguji kelezatannya dengan meminta orang orang dari berbagai macam suku seperti sebelumnya. Setelah benar-benar sukses dan terkenal, mulai melakukan pengembangan usaha dengan membuka cabang di tempat lain. Mengembangkan usaha paling menguntungkan adalah dengan sistem franchise atau waralaba. Selain tingkat kegagalannya kecil, juga tak perlu mengeluarkan modal sendiri.

Untuk mengembangkan usaha restoran yang punya keunikan sendiri, cukup terkenal, dan banyak pelanggannya paling tepat memang dengan sistem waralaba. Sebuah usaha layak diwaralabakan jika memiliki empat, persyaratan, memiliki keunikan dan keunggulan dengan usaha sejenis, terbukti sukses dan menguntungkan, memiliki standarisasi rasa, harga serta pelayanan, dan yang keempat usaha tersebut mudah diaplikasikan atau dioperasikan.
Pemilik usaha yang mewaralabakan mereknya (franchisor) tak perlu repot-repot menyediakan modal untuk ekspansi usaha, karena itu akan disediakan oleh pihak yang menggunakan merek (franchisee). Dan keuntungan bagi franchisee, tak perlu kerja keras untuk membangun merek yang biasanya membutuhkan biaya besar dan waktu cukup lama.
Idealnya usaha rumah makan dikembangkan dengan model waralaba setelah memiliki tiga outlet. Dengan begitu akan lebih meyakinkan dan lebih mudah menarik minat calon franchisee.

Setelah memetik kesuksesan dan usaha semakin berkembang, jangan lupa menyisihkan 10% keuntungan untuk beramal kepada orang yang lebih susah.

Dari: Ciputraentrepreneurship.

Sebuah Sukses Mendunia Untuk Industri Franchise


Terdapat ribuan bisnis waralaba di seluruh dunia. Mana yang paling berhasil?

Pasar global saat ini sebagian besar tergantung pada industri waralaba, yang memberikan konsumen kenyamanan dan keandalan merek atas toko yang sudah mereka tahu dan kenal. Kontribusi ekonomi waralaba di Amerika Serikat adalah sama dengan sekitar 4 $ ekonomi - sekitar $ 835.000.000.000 setahun. Lebih dari 9,5 juta orang memegang pekerjaan dalam bisnis waralaba, dan tahun depan ekonom memprediksi bahwa industri waralaba akan memberikan kontribusi lebih dari $ 2 triliun untuk ekonomi AS.

Waralaba secara langsung bertanggung jawab untuk mendistribusikan produk untuk konsumen di seluruh dunia, dan industri telah berkembang secara ekstensif selama beberapa dekade terakhir. Pada 1007, International Franchise Association Komite Internasional melakukan survei yang menunjukkan bahwa hampir 2 / 3 dari anggotanya saat ini telah beroperasi di lokasi internasional, dan hampir 75% mengatakan bahwa mereka berencana untuk memulai atau menyerbu operasi internasional mereka. Area yang paling sering target operasi waralaba AS adalah Timur Tengah, Eropa Barat, Eropa Timur, dan Selatan dan Amerika Tengah. Dan berkat perubahan peraturan yang ditetapkan oleh Federal Trade Commission, sekarang lebih mudah dan lebih murah untuk waralaba yang berbasis di luar Amerika Serikat untuk memasuki pasar dalam negeri.

Meskipun waralaba biasanya terkait dengan pasar Amerika Serikat, model bisnis dasar telah didirikan di seluruh dunia, dan sekarang ada banyak operasi waralaba besar yang tidak berbasis di Amerika Serikat. Bahkan, hampir 15% dari waralaba yang tercantum dalam daftar Global Top 100 Franchise disusun oleh Franchise langsung tidak berbasis di Amerika Serikat. Sebagai contoh, perusahaan Kumon yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk pendidikan anak-anak berbasis di Jepang. NaturHouse merupakan nutrisi Spanyol dan waralaba kesehatan, Expense Reduction Analysts adalah waralaba konsultasi berbasis di Inggris, dan pengisi ulang kartrid printer perusahaan, Cartridge World, yang berbasis di Australia.

Daftar Franchise Direct tentang 100 waralaba atas global didominasi oleh industri restoran cepat saji (QSR), yang menyumbang enam dari sepuluh waralaba atas dan 20% dari total atas 100 waralaba. Bahkan di tengah resesi ekonomi, industri QSR telah terbukti tangguh dan sukses, dan tidak seperti bisnis lainnya, restoran cepat saji diharapkan untuk terus tumbuh di tahun-tahun mendatang. kenyamanan mereka dan nilai anggaran memudahkan bagi konsumen untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari, dan membuat lebih mudah untuk memiliki pengalaman makan di luar, yang menjamin bahwa mereka akan terus merendahkan restoran.

Waralaba global Top memiliki beberapa hal kesamaan yang berkontribusi terhadap keberhasilan operasional mereka. nama-nama merek yang kuat diakui di seluruh dunia, dan konsumen mengaitkan nama merek dan logo dengan produk dan layanan yang mereka kenal dan percaya. Sebagai contoh, McDonald's memiliki lebih dari 32.000 toko yang terletak di lebih dari 60% dari negara-negara di seluruh dunia. Ronald McDonald dan Golden Arches telah mendapatkan pengakuan universal di antara konsumen. Dengan Kolonel Sanders sama, dan tanda KFC diakui di seluruh dunia dengan lebih dari 15.000 restoran. Waralaba lain yang menikmati pengakuan merek yang kuat adalah 7-Eleven Crowne Plaza, dan Holiday Inn.

Top 10 franchise bisnis global, menurut Franchise Direct adalah:
McDonald's
Subway
7-Eleven
Grup Hotel International Hotel
Pizza Hut
KFC
Burger King
A & W Restoran
Ace Hardware Corporation
NaturHouse

Yang terus-menerus membongkar hambatan perdagangan internasional telah mengakibatkan ekonomi global yang waralaba lebih kuat dan lebih beragam, dan dapat mencapai skala ekonomi tidak seperti sebelumnya. waralaba terkemuka sekarang memiliki sumber daya yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan menyebar ke emerging market. Para waralaba atas seluruh dunia telah membuktikan keberhasilan mereka dalam ekspansi internasional, menguasai tantangan linguistik dan bisnis, dan beradaptasi dengan perbedaan budaya untuk membantu bisnis mereka cocok mulus. Contoh yang ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka saat ini waralaba dapat memberikan contoh yang berharga bagi perusahaan kecil untuk digunakan sebagai model untuk satu hari membuat tanda dan peringkat antara 100 waralaba terbaik di dunia.

Sumber : Buzzle.com

Proven Passion, Cool Outlet, Rocketed Sales Volume

Sebuah email dengan judul yg sama saya terima pada hari senin pagi, dua hari setelah soft opening outlet franchise baru kami di Bandung. Seuntai ucapan selamat & sukses pun mengiringi email tersebut. Namun tidak hanya itu, beberapa email selamat pun menyusul dari teman lainnya, membuat saya semakin bersemangat atas dukungan yang tulus. Bersama dengan tulisan ini sekali lagi saya hanya bisa sampaikan terima kasih yang mendalam atas dukungan, masukan dan doanya selama ini.

Diawali dari email yang saya kirimkan kepada teman2 mastermind untuk memberikan masukan atau second opinion atas rencana saya & istri mengambil salah satu franchise kuliner lokal. Ini adalah franchise kelima (bila dihitung dengan franchise ayam goreng, coffee shop, bimbingan belajar & kursus baca tulis) yang pernah kami ambil utk bekerjasama. Adapun kerjasama franchise yang lalu telah tewas dengan sukses, karena berbagai hal (dari mulai penyampaian informasi yg tidak transparan, penanganan kerjasama yg asal mengejar target pembukaan outlet, dukungan operasional yang tidak sesuai yang dijanjikan dan lain2) membuat saya lebih berhati-hati untuk mengambil franchise lagi. Walaupun demikian, saya tidak pernah patah arang akan sistem ini, saya percaya apapun sistemnya yang menentukan adalah siapa orang dibaliknya. Semua itu justru menambah pengalaman saya, sebagaimana salah seorang teman sering katakan.... kegagalan adalah ongkos untuk sebuah sukses... semakin sering gagal, maka semakin dekat dengan kesuksesan itu sendiri. Just do it! Take action!

Maka terkirimlah gambar berikut ini bersama hitung2an proyeksi bisnis.

Berikutnya yang terjadi, sesuai dengan ekspektasi, serangkaian diskusi pun menjadi masukan bagi saya. Dari yang bersifat teknis mengkaji hitung-hitungan proyeksi keuangan, untung-rugi, resiko investasi, evaluasi nilai proyek dan lain2 hingga yang lebih bersifat mental-spiritual, menyemangati dan memberikan dukungan untuk mengambil keputusan terbaik berdasarkan keinginan/hasrat/passion dari saya sendiri. Jelas dengan tiga kali mengambil franchise bernuansa industri kuliner maka arah dari bisnisnya sdh terbaca, apalagi tujuan mengambil franchise tersebut juga karena ada tujuan yang mendukung bisnis saya yg lainnya. Maka serangkaian ngotot2an berdiskusi dengan teman semakin menunjukan passion tersebut. Proven passion!

Dengan segala pertimbangan yang Insya Allah sudah dipikirkan secara matang dgn memperhatikan masukan dari sana-sini, maka awal bulan Desember 2010 menjadi awal kami menandatangani perjanjian kerjasama franchise dengan salah satu franchisor lokal yg sudah cukup dikenal. Secara cepat namun tidak terburu-buru kami pun mencanangkan untuk bisa melakukan pembukaan outlet di akhir tahuh ini juga. Memanfaatkan momen pergantian tahun yang biasanya menjanjikan potensi penjualan yg luarbiasa.

Namun demikian, perjalanan pembukaan outlet tidak semudah yang saya pikirkan. Perencanaan cermat di atas kertas tetap harus didukung oleh pelaksanaan di lapangan. Apabila orang2 di lapangan tidak bekerja sesuai dengan seharusnya maka kesalahan sedikit akan berakibat penundaan penyelesaian pekerjaan secara umum. Inilah yang terjadi. Saya ambil kembali sebagai hikmah bahwa mungkin Yang Diatas memang sudah menentukan bahwa persiapan pembukaan outlet harus lebih seksama, supaya hasilnya menjadi lebih baik.

Hingga akhirnya selesailah pembuatan & renovasi outlet yang bahkan lebih baik dari rencana sebelumnya.

Dimana backdrop visual menjadi jauh lebih besar dari gambar design awal sehingga bukan sekedar menjadi asesoris outlet namun bisa berfungsi sebagai iklan yang terlihat dari jarak yang lebih jauh. Cool Outlet!

Secara operasional akhirnya outlet dibuka pada pertengahan Januari 2011 lalu. Walaupun tetap masih ada beberapa kekurangan mengingat baru soft opening, namun lambat tapi pasti semua hal tersebut coba ditanggulangi satu demi satu. Ibarat mobil baru, saat ini mesin mobil belum dimanfaatkan secara optimal karena baru keluar dari pabrik dan turun ke jalan. Kalau dipaksakan malah bisa menjadi rusak. Namun demikian, dengan animo pasar yang lumayan besar, dimana bahkan sebelum outlet benar2 operasional sudah banyak yg menanyakan/bolak-balik mau beli. Maka pekerjaan selanjutnya dan yang paling utama adalah melayani pasar tersebut agar target penjualan yg menjadi proyeksi diawal bisa tercapai dan bahkan melebihi. Alhamdulillah, dalam satu minggu terakhir sejak awal pembukaan outlet, walaupun tanpa gembar-gembor promosi, penjualan sudah menampakan hasil yg cukup menjanjikan. Mudah-mudahan, semakin baik pelayanan dan operasional outlet, semakin tinggi omset yg bisa dicapai. Rocketed Sales Volume! Amin YRA...

Franchise...To Be Or Not To Be...

Bukan mau menyaingi lakonnya Shakspeare tapi bagi saya, pengalaman menjajagi bisnis franchise benar2 seperti penggalan kalimat yg diucapkan oleh Tokoh Hamlet diatas. Maju mundur, antara jadi atau tidak, mau atau tidak mau dan lain sebagainya mewarnai proses saya dalam upaya membuka sebuah bisnis berdasarkan sistem franchise.

Cerita ini bukan dimaksud untuk menggurui atau apapun, tujuan saya adalah sekedar untuk berbagi pengalaman. Siapa tahu dari pengalaman saya yang secuil ini, dapat ditarik manfaatnya bagi siapapun yang berminat dalam ber-franchise ria.

Kenapa tertarik franchise?

Semua berawal dari keinginan yang sangat kuat utk mulai berusaha, membuka bisnis sendiri. Keinginan yg muncul setelah sekian tahun bekerja menjadi seorang karyawan di sebuah bank swasta nasional. Lingkungan pekerjaan di bank yang dekat dengan kalangan pebisnis, baik kecil maupun besar , membuat saya bercita-cita suatu saat nanti harus memiliki usaha sendiri. Apalagi sebagai banker yang kemudian ditempatkan untuk mengelola cabang, saya melihat secara positif, betapa besar manfaat yang bisa diciptakan oleh seorang pebisnis, bukan saja untuk dirinya dan keluarga, tapi untuk karyawan yang bekerja untuk dirinya berikut keluarganya bahkan hingga ke masyarakat umum. Namun tentunya ini bagi pebisnis yang sukses dengan usahanya. Karena buat pebisnis yang tidak sukses, bukan manfaat yang diberikan malah mudharat. Banyak kasus debitur2 nakal yang sebenarnya banyak ternyata bukan orang yang nakal tapi karena kegagalannya dalam berusaha, membuat repot banyak orang.

Dari pengalaman bekerja di bank tersebut, saya tahu persis bahwa pebisnis tidak selamanya menyenangkan ada banyak tantangannya dalam berusaha, tapi hal tersebut tidak pernah menyurutkan cita-cita saya bahwa suatu hari nanti, saya harus punya bisnis sendiri. Tinggal bagaimana mengantisipasi atau memitigasi resiko2 tersebut, terutama bagi yang baru akan membuka usaha. Karena memang, tahap tersulit dalam memiliki bisnis sendiri adalah, memulai dan kemudian menjalankannya hingga stabil menciptakan cashflow yang baik.

Seringnya bertemu dengan kalangan pebisnis, nasabah ataupun debitur bank. Saya mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar pebisnis memulai profesinya karena memang lahir dari lingkungan keluarga pengusaha atau 'terpaksa' menjadi pengusaha karena hanya itulah satu2nya peluangnya untuk mencari nafkah. Namun banyak pula yang memulai usaha karena sudah lama berkecimpung di suatu industri/bidang usaha justru sebagai karyawan dan kemudian setelah merasa memiliki pengalaman yg cukup, melihat peluang untuk membuka usaha sendiri di bidang yg telah dikuasainya tersebut.

Kembali ke cerita membuka usaha sendiri, maka selanjutnya saya mencari literatur2 yg mendukung cita cita saya tersebut, sampai pada kesimpulan bahwa, membuka usaha yang ‘aman’ atau secara resiko dapat dijustifikasi adalah dengan sistem bisnis franchise. Tentunya bagi saya yang selama ini berkecimpung di industri keuangan dan perbankan, bukan perkara mudah juga untuk keluar dan bikin bank sendiri, emang anak konglomerat? Jadi salah satu yang visible adalah melihat peluang di usaha2 yang menarik minat kemudian melihat apakah ada sistem bisnis yang bisa ditiru atau diduplikasi untuk bisnis saya dan untuk itulah sistem franchise menawarkan peluang jalan pintas membuka bisnis tanpa perlu jatuh bangun menciptakan atau belajar membuat sistem sendiri.

Jadi apa itu sebenarnya franchise?

Secara umum di Indonesia, sistem bisnis yang masuk kategori franchise sebenarnya sudah masuk sejak tahun 1950-an, walaupun masih dalam bentuk lisensi. Kemudian mulai marak sejak masuknya jaringan restoran cepat saji asing di sekitar tahun 80an. Sementara franchise lokal baru muncul beberapa tahun kemudian dan disusul selanjutnya dengan berdirinya Asosiasi Franchise Indonesia di awal tahun 90an. Secara pribadi, sebagai konsumen tentunya kita semua sudah bersinggungan dengan dunia franchise pada periode tahun2 tersebut. Tentunya dengan tidak mempermasalahkan apa bedanya sistem usaha ini dengan sistem usaha lainnya, lha wong konsumen kok, asal dilayani dengan baik dan merasa nyaman sudah cukup toh.

Supaya jelas sama apa itu franchise, maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Indonesia no 16 tahun 1997, yang dimaksud dengan franchise atau waralaba kalo istilah Indonesianya, adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Sementara menurut AFI (Asosiasi Franchise Indonesia,adalah salah satu bentuk format bisnis dimana pihak pertama yang disebut franchisor memberikan hak kepada pihak kedua yang disebut franchisee untuk mendistibusikan barang/jasa dalam lingkup area geografis dan periode waktu tertentu mempergunakan merek, logo, dan sistem operasi yang dimiliki dan dikembangkan oleh franchisor. Pemberian hak ini dituangkan dalam bentuk perjanjian waralaba (franchise agreement). Sejatinya ada dua jenis waralaba/franchise. Waralaba format bisnis (busines format franchising) dan waralaba konversi (conversion franchise), penjelasannya adalah sbb:

Business Format Franchising (Waralaba Format Bisnis)
Dalam waralaba format bisnis, Franchisor memberikan hak (lisensi) kepada franchisee untuk menjual produk/jasa menggunakan merek, identitas dari sistem yang dimiliki franchisor. Selain itu franchisor juga melatih franchisee dalam hal pemasaran, penjualan, pengelolaan stock, akunting, personalia, pemeliharaan, pengembangan bisnis dan semua aspek berkaitan dengan pengelolaan usaha bersangkutan. Selain itu dalam waralaba format bisnis franchisor juga memberikan dukungan yang berkesinambungan kepada para franchisee-nya dalam bentuk konsultansi usaha, internal audit, pemusatan pembelian untuk mendapatkan harga terbaik, pengembangan produk dan advertising. Waralaba format bisnis merupakan jenis waralaba yang paling maju.

Conversion Franchise (Waralaba Konversi)
Waralaba konversi adalah jenis waralaba dimana franchisor memberikan lisesnsi kepada usaha sejenis milik franchise untuk bergabung di dalam rantai usaha yang dimiliki franchisor mempergunakan merek, logo dan sistem operasi franchisor. Format waralaba seperti ini diterapkan oleh rantai hotel misalnya choice hotel dll.

Dengan penjelasan seperti tersebut diatas, tentunya bagi para pengusaha pemula atau yang baru mau membuka usaha, sistem ini menawarkan alternatif berusaha yang luar biasa baiknya. Bayangkan, tanpa perlu melalui pembelajaran usaha yang biasanya berdarah-darah, seorang pengusaha pemula dapat memiliki bisnis yang sudah lengkap sistemnya dan bahkan mendapat dukungan/support untuk menjalankan dan mengembangan usahanya. Secara kacamata perbankan juga yang biasanya alergi sama bisnis2 start up yang beresiko kegagalan tinggi, sistem franchise menawarkan kestabilan karena sudah melewati masa2 beresiko tersebut dan para franchisee nya tinggal menduplikasi sistem yang sebelumnya sudah berhasil dijalankan oleh para franchisor (pihak yg memegang franchise).

Namun demikian, apakah konsep yang indah ini seperti yang disebutkan dalam prakteknya? Bagaimana pula dengan detail2nya yang sejatinya harus kita cermati. Sebab kadang, masih banyak ditemukan juga bisnis2 yang berbasis sistem franchise tidak berjalan sebagaimana yang seharusnya. Oleh karena itu, pada tulisan berikut saya ingin menceritakan pengalaman saya membuka usaha dengan sistem franchise. Harapan saya, dari sharing pengalaman ini bisa memberikan wawasan bagi siapapun yang berniat memulai usaha dengan sistem franchise di Indonesia khususnya.

(bersambung...)